Moment pertama keluarga kecil, dua anak cukup

Jadi tuan rumah, gampang-gampang susah

Advertisements
Apakah pernah engkau menulis dengan mata terpejam?
Apakah pernah engkau menulis dengan mata mengantuk?

..begitulah yang sekarang sedang kulakukan. Alhamdulillah saya baru menyelesaikan semua pekerjaan rumah tangga bersama suami tercinta. Gotong royong mengerjakan pekerjaan rumah tangga memang sudah sering dilakukan, namun kali ini pekerjaan menjadi luar biasa beratnya karena kami mengadakan acara turun tanah dan Aqiqah yang merupakan pertama kalinya semenjak tinggal Mandiri bersama suami dan kedua anakku. Nanti aku perjelas di Artikel informasi cara turun tanah dan Aqiqah “Alesha Safaniya Dewi” berdasarkan hasil kombinasi dari kesepakatan kedua belah pihak keluarga. Karena ingin tetap mempertahankan nilai budaya Indonesia namun mengikuti kemampuan dan kondisi kami saat itu.

Bayangkan saja, dengan kondisi punya anak bayi dan batita yg masih belum bisa diajak kompromi, ditambah dengan tidak ada tenaga tambahan alias asisten rumah tangga, wuiih.. bagaikan kepala dipenuhi dengan tanaman yang akarnya sudah keluar menjadi rambut-rambut yang gondrong:-O hi-hi-hi..

Seminggu sebelum acara puncak stress bersama suami terjadi.. Ditambah dengan badan remek plus nyilu menambah berat beban hidup ini.. *lebay oii.. untungnya kami berdua sama-sama pekerja keras, untungnya lagi kami berdua punya kemampuan managemen badan capek sendiri, alias terbaring sebentar cari kasur disaat capek. Jadi secapek-capeknya ya apa mau dikata, memang kami hanya berdua jadi tidak mau mengeluh, life must will go on.. jatuh.. cepat bangkit.

Kami saling bekerjasama, bergantian menjaga anak, mencuci, beres-beres, berkarya, memenuhi pesanan customer kami, ke dapur memasak untuk anak *kalau yang orangtuakan bisa beli, tapi sekalian masak, ya sekalian buat banyak porsinya untuk orangtuanya juga:-P bergantian dalam hal apapun, kecuali menyusui tetap peran ibu (bagaimana bisa kalau Ayah menyusui), dan menafkahi tetap peran Ayah (dunia bisa kiamat kalau terbalik, terkecuali ada keterbatasan lainnya dan diperbolehkan istri).

Kami pun tidak menyia-nyiakan memiliki orangtua yang hebat dan sudah terbukti mampu baik finansial dan energi.. hehe.. tapi yang membuat berbeda adalah.. Bagaimana cara membuat kedua orangtua kami bisa bertemu rukun, kompak terkoordinasi untuk membantu kami sebagai anak dan juga mantu. Karena tak jarang terjadi pertikaian diantara besan (walaupun tidak dalam bentuk peperangan). Terkadang hal itu bisa saja terjadi dari hal-hal yang menurut kita sepele, seperti masalah selera, pola asuh anak, berbagi waktu, bentuk perhatian ke orangtua, cara dan etika berbicara, kebiasaan yang berbeda, adat, dan lain sebagainya.

Alhamdulillah semua sudah bisa kami lalui semaksimal mungkin, menyingkirkan persiapan-persiapan yang beresiko menimbulkan capek atau berat sebelah secara finansial. Dan 3 hari sebelum acara saya dan suami mematangkan kondisi sedemikian rupa agar nantinya di acara timbul kondisi yang kondusif dari segala penjuru.

Sehari sebelum acara kami mempersiapkan segala macam perangkat yang dibutuhkan, dan disini dengan status pinjam semua, dari semua perangkat dapur; panci-panci besar, piring, sendok, gelas, toples berserta isinya (krupuk, kacang), goodiebag, sampai urusan lantai; tikar, karpet dan tape sound system. Mana dibawain juga jajanan tradisional seperti nogosari, koci-koci, onde-onde. Terimakasih Mama mertuaku yang baik banget (peluk erat). Hal itupun juga tak luput dari bantuan Mamaku yang rela mengeluarkan dana lebih untuk membeli Tumpeng Syukuran yang unik banget, kue roti handmade Mama, kue bolu favorit anak saya yang pertama, berbagai macam kue-kue kering, lalu ditambah dengan pesan kue yang tidak ribet masukkan ke kerdus, karena sudah dapat kerdus promosi merk roti tersebut. Dengan demikian bisa mengurangi lelah untuk memasak dalam menjamu makan tamu-tamu. (Cium panjang buat Mama. Muaaaaaah..)

Setibanya di hari H, jam 03.00 pagi saya dan suami sudah memulai membereskan rumah. Suamiku hebat menyulap ruang tamu menjadi indah dengan hiasan banner di dinding ucapan selamat datang dan terimakasih yang disertai foto cantik anak kami. Lalu, dibagian depan sudah ada terpal untuk melindungi halaman dari hujan dan panasnya terik matahari (Terimakasih suamiku tercinta, peluk ciumnya disensor):-Pimg_20160925_120249

Dengan cepat aku merapikan mainan anak-anak dan menyapu bersih semua barang yang tidak berkepentingan, menyiapkan sarapan didapur, semua diburu oleh waktu anak-anak sebelum terjaga, karena bila mereka sudah bangun tentunya tugas utamaku sebagai ibu akan berjalan, memberi makan, mandi dan mengajar dengan cara bermain bersama.

Alhamdulillah semua hadir tepat waktu mulai dari rekanan yg membuatkan Menu Aqiqah kami, (baca selengkapnya mengenai produk jasa Aqiqah), lalu kue dos datang tepat waktu dibawa kakak ipar kami. Waktunya memasukkan makanan dan kue, dibantu oleh Adikku dan istrinya (Terimakasih.. Akbar’s mom n pap).

Kedua keluarga berkumpul menjadi satu. Melebur dalam nuansa yang harmonis, saling menghargai, dan nampak kompak,

Alhamdulillah bersama-sama kami menyambut anak-anak yatim yang kami undang dari Yayasan Attauhid dengan dipimpin oleh ustad Zulfa. Suasana nampak khusuk dan dengan ide yang saya berikan untuk menambah susunan acara, dapat menambah suasana semakin erat dan haru, yaitu kirim doa kepada Almarhum kakek nenek, Almarhum saudara kandung orangtua kami, dan Almarhum Ayah dari kakak ipar. Airmata menetes disaat mengirim doa, semua pada memorinya masing-masing dengan orang-orang tercinta.

Kembali doa diucapkan dan sholawat diiringi rebana banjari dari anak-anak yatim, begitu indah menghiasi rumah kami. Semua berdiri, saya dan suami membawa si mungil Niya mengitari bersalaman dengan mereka. Lalu, rambut Niya di potong oleh kedua kakek neneknya.

Setelah itu, memasuki acara selanjutnya yakni turun tanah.. Prosesi ini dibimbing oleh Mama saya yang sudah cukup pengalaman melakukan turun tanah pada ke lima cucunya, turun tanah ini bukan murni dari adat jaman buyut namun merupakan proses yang adaptif antara adat kuno dengan perpaduan modern dari mbah yang berada di jakarta.

Dengan digendong Ayah (suami), dan gandengan Bunda (saya), si bungsu Niya menapakkan kakinya satu demi satu di kain batik yang telah ditata rapi bertingkat sebagai pengganti tangga, lalu disaat diinjakkan kakinya pada tetel dan bubur, adik Niya mulai menangis berteriak…img-20160925-wa0046

kami pun semua tertawa lepas karena melihat ekspresinya yang lucu. Lalu kami membersihkan kakinya dan kembali ke TKP untuk melanjutkan ke tahap selanjutnya, yakni memilih barang-barang.

Disediakan pilihan, antara lain; Al-Qur’an, Buku Bacaan Doa, Uang, Buku dan Bullpoint, Kalkulator, Bedak, Mouse. Adik Niya memeluk erat badan saya, ia menangis tidak mau melepaskan dirinya dari pelukan saya, saya arahkan badannya untuk memilih,namun tetap tidak ada yang diambilnya, dengan memangis kencang memeluk saya.img-20160925-wa0044

Disinilah saya semakin merasakan menjadi ibu, begitu haru. Filosofinya disaat anak merasakan tidak percaya pada sesuatu hal, atau mengalami suatu permasalahan, kita harus memberi “trust” untuk membangun keberaniannya untuk menghadapi masalahnya. Lalu memberikan “support” agar anak bisa menyelesaikan permasalahannya. Karena banyak diluar sana yang akan dia hadapi secara sendiri, maka kita perlu memberikan “knowledge” namun tetap memasang badan disaat ia sudah tidak mampu menghadapinya. Saya mengajaknya komunikasi, menenangkannya, memberi kepercayaan, dan akhirnya adik mampu menyulurkan tangannya sejenak meskipun sambil menangis. Tiga barang yang disentuhnya adalah Al-Qur’an, Bedak dan Kalkulator. Dengan makna ia akan menjadi anak yang Sholehah, mampu berias diri dan pandai berhitung. Amiiiiin..

Acara ditutup dengan ramah tamah dan Doa, begitu khidmat dan penuh suka bersama dengan anak-anak yatim, Alhamdulillah ya Allah terimakasih telah diberikan kemudahan dalam acara ini.

Begitulah Moment pertama kali kami mengadakan acara sebagai keluarga kecil beserta dua anak krucil. Berikutnya aku berikan artikel tips mengadakan Aqiqah.

Bagaimana tentang keluarga kecilmu? tinggalkan jejak commentmu disini, supaya aku bisa melihat cerita di blog mu.

See u in the next articel,

Dewi

 

 

 

10 thoughts on “ Moment pertama keluarga kecil, dua anak cukup

  1. Wah serunya acara aqiqah sekaligus turun tanah Niya.. Anak2ku gada yg pake acara turun tanah.. Pdhl pgn bgt ngadain.. Ya terkendala jauh dr ortu, klo acara begitu kan semua hrs kumpul.. Ditunggu artikel tips mengadakan akikahnya ya mom..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s