Menikmati menjadi Pasangan dalam Perkawinan

Menjadi pasangan perkawinan itu tidak mudah. Karena ada dua kepala yang memiliki dua pemikiran yang berbeda. Apalagi dua jenis makhluk yang berbeda. Pria dan Wanita. Bahkan perbedaan ini bila diulas tidak akan ada habisnya, seperti yang pernah booming  di tahun 1990an Buku dari John Gray mengenai perbedaan Pria dan Wanita dengan judul  Men are from Mars, Women are from Venus. Belum lagi ada perbedaan tingkat pendidikan. Ada perbedaan kebiasaan/adat keluarga. Ada perbedaan kepribadian orang tua.. Isinya semua pasti perbedaan.

Ada juga pasangan yang memiliki kesamaan. Misalnya kesamaan hobi, kesamaan visi & misi. Kesamaan suku, budaya. Tapi kalau sudah hidup bersama dalam satu perkawinan, pasti kesamaan itu juga akan diiringi dengan perbedaan. 

Suatu kesamaan atau perbedaan dari pasangan, bisa menimbulkan hal yang membahagiakan tapi juga bisa menimbulkan hal yang membuat pertikaian. Belum lagi perbedaan karaktermu dan pasangan hidupmu. Belum lagi manusia yang bisa berubah. Karena manusia pasti memiliki akal dan pengaruh lingkungan cukup besar.

Untuk menikmati menjadi pasangan dalam pernikahan terbagi menjadi 2 hal yaitu :

1. Menghadapi suatu permasalahan dalam rumah tangga.

Dalam biduk rumah tangga, adakalanya komunikasi menjadi tidak lancar, disaat-saat tertentu ada kondisi ini. Entah itu di masa sulit atau mungkin di masa lelah. Maka jika kau mengalaminya dengan pasangan, perdebatan tidak akan pernah habis dan selesai. Cara berpikir kalian mungkin bisa berbeda. Atau bisa jadi pemahaman pada suatu hal dapat menimbulkan salah paham. Atau yang paling buruk adalah seseorang yang memiliki kepribadian kurang baik. Semoga kita dijauhkan dari pasangan yang seperti itu.

Kau percaya atau tidak? Ada loh orang yang memiliki kepribadian yang tidak baik. Bahkan dengan penampilan yang menarik, belum tentu emosinya sematang dengan usianya. Jadi sebenarnya, kematangan seseorang itu bukan juga dari usia. Kalau dari aspek psikologis usia itu ada dua macam, yaitu Usia kronologis dan Usia mental. Usia kronologis adalah usia yang didapatkan seseorang dari tahun kelahirannya, sedangkan usia mental adalah usia yang diukur dari tingkat kematangan emosinya, pengukurannya biasa dilakukan dengan tes psikologi.

Kalau mau bicara soal psikologi tentang kepribadian manusia, luas sekali.. bisa-bisa nanti artikel ini nanti tanpa titik:-)

Yah begitulah kalau kita melihat manusia. Jadi sebisa mungkin berikan dan lakukan yang terbaik, bicarakan apa yang menjadi pendapatmu, jangan menjadi orang yang diam saja, bagaikan film India dengan peran utama yang selalu ditindas. 

“Jadilah seseorang yang mampu mengungkapkan apa yang dirasakan, tetapi tetap dapat mengontrol kata dan emosi agar tidak menyinggung lawan bicaramu”.

Bila dalam kajian psikologi sikap ini adalah perilaku Asertif.

sumber: pexels.com

Apalagi jangan sampai keluar kata-kata yang menyakitkan untuk pasanganmu. Karena pasanganmu perlu penghargaan dari tutur katamu. Lalu Bagaimana jika pasanganmu yang mengungkapkan kata-kata yang menyakitkan? Ingatkan dia dengan tetap tenang, tapi jika dia masih tetap saja seperti itu maka diamlah. Karena berarti pasanganmu sedang dalam Puncak emosinya. 
Jangan balas amarahnya, bagaikan api kau siram minyak tanah. tapi bila sampai pasanganmu melakukan pukulan atau kasar secara fisik., maka bertahanlah Lindungi dirimu. Terus terang saya miris melihat video yang beredar tentang kekejaman suami yang memukuli istrinya, yang dengan tidak punya perikemanusiaan, memukuli, menjambak, menghantamkan kepala ke dinding. 

Bila itu sampai terjadi pada dirimu, maka bersiap-siaplah untuk meninggalkannya. Karena dia sudah bukan orang yang bisa melindungimu. Jangan takut karena banyak yang akan membelamu di luar sana. Laporkan pada petugas yang berwajib. 

Tapi bila pasanganmu tidak pernah melukai secara fisik, kau patut mempertahankannya. Bila dia kasar secara tutur kata, cobalah kau intropeksi dan merubah dirimu lebih baik lagi. Berdoalah sesuai dengan kepercayaanmu. Sesekali berikan sindiran halus di saat dia sedang senang. Sampaikan dengan halus bahwa kau tidak suka dengan sikap yang seperti itu.

Bagaimana jika pasanganmu adalah orang yang pendiam, yang tidak pernah berbicara kasar, yang selalu sabar mendengar amarahmu, yang selalu mengalah, mengambil hatimu, memijatmu disaat kau lelah. Bagaimanakah harus bersikap dengannya? Berikan penghargaan dengan mengakui kebaikannya,  membalas dengan kebaikan – kebaikan. Jangan kau menjadi posesif karena kau takut kehilangan orang yang seperti itu. Berikan juga dia ruang untuk bersama teman-temannya. Dan pasanganmu yang seperti itu sangat perlu kamu syukuri karena hanya 1000 banding 1. Bagaikan pasangan yang sempurna.

Lalu berarti sisanya 999 adalah pasangan yang tidak sempurna. Jadi jangan ragu untuk saling berkomunikasi, mengungkapkan pendapatmu, menyelesaikan masalahmu, dan menghindar disaat diantara kalian emosinya sudah memuncak. Karena emosi dengan emosi tidak akan pernah selesai. Redamlah emosimu, berdoalah dengan agamamu meminta petunjuk dariNya. Perkuatlah Agamamu. Bila kau masih bersedih, carilah pelarian positif, seperti : Melakukan hobimu, berinteraksi dengan anakmu, bepergian/berinteraksi dengan orangtua pasanganmu  *ini cukup efektif meredam amarahnya.

2. Memelihara cintamu

Jangan membayangkan percintaan setelah pernikahan akan seperti romansa remaja dan bagaikan dongeng. Karena kesibukan dan peran kita akan banyak merubah situasi percintaan kita. Dan terkadang hal ini dapat membuatnya “pudar”. Ups! jangan panik dulu. Disinilah kamu perlu memelihara cintamu. Tanaman yang kau beli saja perlu kau beri pupuk, Baju yang kau beli saja perlu kau cuci, jadi tidak keberatan kan kalau kau merawat cintamu. Tips yang perlu diingat adalah 5S yaitu “Senyum, Salam, Sapa, Sanjungan dan Sentuhan”. Tidak perlu gengsi untuk menyatakan cintamu terlebih dahulu. Justru semakin banyak kau melakukan dahulu, maka semakin banyak pahalamu. Sah kan? Sah.. sudah melewati berdebarnya ijab qabul, melewati rintangan persetujuan orang tua, melewati perebutan gebetan dari teman hingga sekarang jadi pasanganmu, lalu kau diamkan begitu saja? Janganlah. *hihihi.. colek-colek dikit. Buat nuansa romantis seperti saat kau berpacaran atau SKSD dahulu, mungkin dia akan terkejut, atau terheran perubahan dari dirimu, lanjutkan saja jangan menjadi ngambek (=marah) karena tidak dapat respon, berusaha lagi membuat 5S, nanti dia akan mengeluarkan senyuman untukmu *meskipun senyumnya setipis kertas. Karena senyuman kecil akan mengawali hari kalian dengan penuh semangat.

Lalu tunggu apalagi, 5S sudah menanti. Bila kamu dan pasanganmu menjadi lebih mesra jangan salahkan daku ya *tutup muka #malu

Salam hangat,

Dewi.

Sumber foto-foto; Pexels.com

Advertisements

16 thoughts on “Menikmati menjadi Pasangan dalam Perkawinan

  1. Kehidupan pernikahan itu emang complicated yaa.. Manis, pahit, asam, asin, semua campur aduk.. Tapi justru itulah yang menjadikan pernikahan itu lebih “nikmat”..wwkwkkwkwkk..

    Like

    1. iyees mom.. tau banget intisarinya mom, makanya judulnya Menikmati, semua rasa ada disitu.. jd meski pahit sekalipun asal bukan kdrt maka layak untuk dipertahankan, nanti bisa berbuah manis:-D

      Like

  2. aku menarik kesimpulan,, kalo mau menikah belajarlah apa yang bakalan harus kamu lalui di kehidupan pernikahan yang nggak kayak di dongeng2 yang berakhir dengan happily ever after yak.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s