Wanita mandiri, Yay or Nay : 6 Tips Wanita Karir dalam mengasuh anak

Sahabat wanita.. Apakah setiap wanita ingin menjadi Mandiri? Banyak topik memberikan saran atau pengetahuan mengenai menjadi Wanita mandiri. Mungkin diantara kalian ada yang belum mengikuti topik tersebut, berikut salah satu artikel kolaborasi dari mbak Swastikha yang mengulas mengenai “Wanita terlalu mandiri, yay atau nay?” Beliau adalah seniorku di dunia blogging dan perkuliahan:-)

Lalu apakah wanita mandiri selalu wanita yang berkarir?

Bagaimana jika yang sudah menikah dan memiliki anak. Apakah bila ia tidak berkarir, bergantung secara finansial pada suami, maka bukan termasuk wanita Mandiri?

Saat ini dunia karir pada wanita yang telah menikah sudah bukan kebutuhan prestasi semata, namun juga untuk membantu suami dalam menjalani kehidupan rumah tangga bersama. Namun, tak sedikit juga seorang Wanita yang rela melepaskan karirnya demi menjaga anak-anak mereka secara langsung.

Wanita mandiri dalam lingkup rumah tangga tidak hanya disaat wanita tersebut menjadi seorang wanita karir. Wanita yang tidak berkarirpun dapat dikatakan sebagai wanita mandiri, karena kemandirian sebenarnya bukan dinilai dari karir atau penghasilan. Wanita yang tidak berkarir juga sangat membantu suami. Menyelesaikan rutinitas urusan rumah tangga. Dan karena dengan tidak berkarir maka ia menjadi seorang ibu yang selalu ada untuk memenuhi kebutuhan anak mereka disetiap waktu. 

“Seorang wanita yang tidak berkarir ada kapanpun anak tersebut membutuhkan”

Mereka mampu mengawasi anak-anak secara langsung, tanpa membayar gaji pengasuh. Bahkan suami bisa berangkat bekerja dengan lebih tenang karena meninggalkan anak-anak dengan ibu kandung itu sendiri. Ini sangat penting untuk disadari oleh para Suami. Apalagi sekarang kita sering melihat issue yang sedang marak diperbincangkan di media massa mengenai penculikan anak, dan keselamatan anak, cukup meresahkan masyarakat. Sehingga anak sangat membutuhkan perlindungan dari orangtuanya. Jadi bila kita mengabdi untuk berada dirumah bersama dengan anak, maka ada saatnya nanti kita punya kesempatan untuk berkarya dari rumah, misalnya disaat anak mulai Sekolah. Berkarya dari rumah bisa seperti mempertajam bakat yang kita punya. Misal menjahit, menulis cerita dalam blog, memasak katering, dsb.

Bila wanita sudah memiliki anak, apakah berkarir sudah merupakan pilihan yang tepat?

sumber foto: https://cdns.klimg.com/merdeka.com/i/w/news/2014/05/02/360418/670×335/6-tips-berpacaran-dengan-wanita-mandiri.jpg

Diskusi ini tak lepas dari peran suami, karena disisi lain wanita memiliki tanggungjawab yang sangat besar untuk menjadi seorang ibu. Dimana mereka harus melindungi dan merawat anak-anak mereka. Tidak hanya merawat secara fisik dengan menjaga kebersihan anak atau menyiapkan makanan kesehariannya. Namun, secara psikologis perkembangan emosi dan kematangan sangat perlu pendampingan dari seorang ibu. Sedangkan bila wanita bekerja, maka keseharian waktu mereka pasti akan banyak tersita oleh pekerjaan mereka.

Oleh karena itu. Bila kita sudah memutuskan untuk bekerja, berikut beberapa hal yang patut diperhatikan dalam meninggalkan anak.

1. Dengan siapa anak kita tinggal. 

Bila kita meninggalkan anak untuk bekerja, kita harus benar-benar mencari pilihan terbaik dengan siapa anak kita tinggal. Bayangkan saja seandainya kita bekerja di jam 08.00-17.00, itupun belum terhitung jam perjalanan berangkat dan pulang kantor, belum jam lembur, belum hari weekend yang terkadang waktu kita tersita oleh pekerjaan. Lalu dengan siapa anak kita bisa bercerita diwaktu itu? Dengan siapa mereka bisa mamanjakan diri, menangis, tertawa, bermain dan belajar? Dan dimana anak kita tinggal juga sangat perlu diperhatikan keamanannya, bila ia berinteraksi keluar.

Kita perlu memikirkan orang yang tepat untuk bertanggung jawab atas kesehariannya. Orang yang tepat adalah mereka yang benar-benar bisa menjaganya dengan kasih sayang. Karena merawat anak bukan seperti menitipkan barang, yang seandainya kita taruh pagi dalam kondisi rapi lalu malam kita jemput dalam kondisi yang sama. Karena merawat anak itu tidak hanya fisik yang diperhatikan, sesuatu yang tidak terlihat misalkan pengalaman yang terjadi dihari itu bahkan sangat penting untuk diketahui.

Jadi orang-orang yang bisa menjaganya dengan kasih sayang akan sangat membantu untuk perkembangan emosi anak kita. Orang tersebut bisa jadi orangtua kita. Tentu orangtua yang membesarkan kita dengan penuh kasih sayang. Karena mereka sudah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam merawat anak. Memang peran mereka akan lebih terlihat sebagai kakek atau Nenek kepada Cucu. Namun merekalah yang terutama dan paling terpercaya dalam menjaga anak.

Namun, Bagaimana bila dalam alasan tertentu, orangtua kita tidak bisa menjadi pilihan yang utama? Maka kita perlu orang lain yang bisa kita percaya dan orang tersebut berpengalaman dalam merawat dan menjaga anak. Karena tak hanya ketelatenan yang diperlukan, namun keselamatan anak juga perlu diperhatikan. Seandainya kita harus menitipkan pada jasa penitipan anak, minimal kita harus mengenal pemiliknya. Dan yang sangat perlu diperhatikan adalah jumlah anak yang dititipkan, jumlah pengurus karena akan berpengaruh pada fokus perawat dalam memperhatikan anak.

Hal mendasar lainnya, apa yang menjadi kebutuhan anak dikesehariannya harus kita yang menyiapkan. Misalkan makanan dan perlengkapannya, perangkat mandi, mainan kesukaan, atau pelajaran yang mendukung untuk perkembangannya.

2. Bagaimana pola makan yang dialami.

Setelah kita mendapatkan orang kepercayaan dalam keseharian anak, bukan berarti kita terlalu pasrah. Kita tetap harus memiliki tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Karena beda usia pada anak maka kebutuhan nutrisinya juga berbeda. Sangatlah beruntung bila keseharian anak diasuh oleh orangtua kita, jadi kita akan banyak terbantu bahkan belajar dalam pemenuhan kebutuhan nutrisi anak. Namun, kita harus sadar bahwa dengan menitipkan anak, orangtua tidak akan semudah itu menyiapkan setiap hari makanan untuk anak apalagi bila anak kita masih balita. Ruang gerak mereka akan menjadi terbatas karena menjaga dan merawat anak. Jadi sebaiknya kita perlu membantu,  bisa dengan adanya asisten rumah tangga namun tetap dengan kesepakatan orangtua, karena merekalah yang akan berinteraksi langsung. Lalu penting untuk mencari informasi tambahan untuk kreasi makanan si kecil. Karena ada masa dimana seorang anak memilih makanan atau nafsu makan menurun. Disaat itu kita perlu mengetahui lebih banyak makanan apa yang disukai anak, tanpa mengabaikan nutrisi yang diperlukan untuk tahap usianya. 

Makanan anak sangat penting diperhatikan karena untuk kebutuhan perkembangan fisik, kognitif dan kesehatan anak. Selain itu apakah anak memiliki alergi pada jenis makanan tertentu.

3. Apa kendala yang dialami anak.

Hal yang terkadang dianggap sepele, disaat anak mengeluhkan sesuatu dan kita tidak menanggapinya. Bisa karena kesibukan atau orangtua yang tidak menyadari bahwa anaknya sedang dalam proses belajar. Kita perlu mengenali karakter anak. Apakah ia tipe anak yang mampu mengekspresikan kesulitannya atau ia tipe anak yang diam menutup diri disaat mengalami kesulitan. Bila anda memiliki anak yang tidak mengungkapkan kesulitannya atau bahkan cenderung Mandiri atau pendiam, maka komunikasi dua arah sangatlah penting untuk anak, agar anak mampu belajar mengkomunikasikan kesulitan yang dihadapinya. Sebaliknya jika anak Anda mampu mengungkapkan kesulitannya, maka sebagai orang tua harus cepat dan menanggapi apa yang dia butuhkan. Disini secara kognitif anak akan cepat belajar menemukan solusi dari setiap permasalahan yang ia temui.

4. Perubahan apa yang dialami anak.

Setiap hari kita perlu mengetahui apa saja yang dilakukan anak. Bukannya kita tidak percaya dengan orang yang sudah kita beri tanggung jawab dalam keseharian anak. Tapi tetap sebagai orangtua itu merupakan tanggungjawab utama. Karena segala perubahan yang terjadi pada anak bisa bernilai positif atau negatif. Pengetahuan akan perubahan tersebut juga akan menjadi bentuk perhatian kita sebagai orangtua terhadap anak. Hal ini perlu kita komunikasikan dengan baik pada anak atau pada yang mengasuh anak kita.

5. Perkembangan terbaru dari anak.

Serupa dengan perubahan yang dialami anak, namun untuk perkembangan terbaru anak lebih ke hal yang positif dari perkembangan anak. Dengan memantau perkembangan baru dari anak, maka akan memudahkan kita untuk menyusun pembelajaran apa yang perlu diajarkan pada anak untuk tahap selanjutnya sesuai dengan porsi usianya. Sehingga disaat kita berdiskusi dengan para Bunda lainnya kita bisa saling sharing informasi untuk update kebutuhan pendidikan anak saat ini.

6. Kedekatan Ibu dan anak.

Berkarir demi membantu suami atau dikarenakan ingin mencari prestasi terkadang memang memiliki nilai lebih dimata orang lain. Namun bila kedekatan antara Ibu dan anak menjadi korban, maka semua yang dilakukan akan dirasa kurang bermanfaat. Karena kedekatan antara Ibu dan anak akan bersifat seumur hidup. Bagaimana perilaku ibu terhadap anak, akan berpengaruh bagaimana anak berperilaku kepada orangtua nantinya. Anak yang telah kehilangan figur ibu dikesehariannya akan mencari figur lainnya yang perannya disini mendekati seorang ibu, yakni pengasuhnya. Walaupun terkadang wanita berkarir juga demi anak, ataupun untuk menjadi contoh pada anak-anaknya, tetap saja disaat anak masih belum dewasa yang mereka lihat adalah waktu keseharian yang tanpa kehadiran seorang ibunya.

 Oleh karena itu, bila wanita berkarir maka diperlukan usaha lebih untuk mendapatkan hati dan kedekatan dengan anak tercinta. 

sumber foto: http://www.sehatmagz.com/wp-content/uploads/komunikasi-ibu-dan-anak-800x500_c.jpg

Memperoleh kedekatan dengan anak adalah dengan memberikan kesempatan dan waktu yang khusus diberikan untuk menemani sang anak, seperti bermain bersama, belajar bersama atau memenuhi kebutuhan anak. Terkadang hal ini bisa keliru disaat ibu menjadi memanjakan anak karena dimaksudkan sebagai pengganti waktu-waktu yang sebelumnya. Sehingga sang ibu menuruti apapun yang diinginkan anak, tanpa melihat apakah itu kebutuhan penting, apakah itu bersifat berlebihan, dan sebagainya. Sah-sah saja karena menyenangkan anak atau belanja mainan untuk anak dengan penghasilan yang dihasilkan dari keringat sendiri. Namun, tetap kita harus mempertimbangkan apakah itu berdampak baik bagi kepribadian anak.

Misalkan seorang ibu yang membalas waktu yang hilang dengan membelikan mainan apapun yang diinginkan anak, saat anak memaksa meminta mainan atau pergi kesuatu tempat lalu sang ibu menurutinya. Ini dapat menyebabkan karakter anak akan menetap, meminta dengan cara demikian. Tentu kita tidak ingin anak kita bersikap demikian, sulit diatur, dan tidak bisa diberitahu.

Sehingga perlu kita bedakan apa yang menjadi kebutuhan anak, kita boleh memberikan mereka kesenangan tapi dalam batas wajar. Pemberian kesenangan anak bisa membantu pembentukan perilaku dengan cara pemberian Reward disaat anak berbuat baik. Misalkan anak anda ingin mainan yang sangat mahal yang mengharuskan anda untuk menabung terlebih dahulu, jadikan itu syarat seandainya ia mampu mendapatkan nilai baik di sekolah.

Selain itu bisa disaat anak menjelang tidur, selalu diajak komunikas untuk bercerita. Berikan pengertian bahwa Bundanya sayang pada dirinya, ceritakan alasan Bunda bekerja. Gunakan bahasa sesederhana mungkin agar anak mampu memahaminya.

Sering berikan sentuhan-sentuhan ringan disaat anda bersamanya. Bisa menyayang rambutnya, membenarkan bajunya, menggendongnya, memeluknya, memangkunya, mengajaknya berbicara dengan menatap matanya dengan posisi badan setara dengan badannya. Hal ini cukup membantu untuk membangun kedekatan emosional dengan sang buah hati.
Itulah hal-hal yang mungkin bisa membantu untuk mengingatkan kita bahwa dengan menjadi wanita berkarir tetap berusaha agar bisa sedekat mungkin dengan anak. Karena bagaimanapun posisi Bunda tidak akan tergantikan oleh apapun didunia ini:-)

Hai kalian wanita mandiri. Tentukan jalan hidupmu mulai dari sekarang:-)

Semoga bermanfaat. 

Salam hangat untuk anak-anak tercinta,

Dewi.



Mau berkolaborasi dengan saya dan berbagi info lainnya? Silahkan kirim email di:

deltamultisinergi@gmail.com

beri subyek : KOLABORASI.

Akan kami post setelah konfirmasi untuk kelengkapan data.

Advertisements

6 thoughts on “Wanita mandiri, Yay or Nay : 6 Tips Wanita Karir dalam mengasuh anak

  1. Aku sih lebih suka yang dirumah full ngurus anak. Kalau butuh uang lebih, yaaa jualan ol atau apalah yang halal. Atau cari tambahan dari nulis..
    Mandiri ngurusin anak aja udh berat bangettt

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s