Cara menyapih anak tanpa paksaan

real process, live with personal touch

Advertisements

Sudah waktunya disapih belum ya?

Apa benar harus disapih sekarang?

Pertanyaan semacam itu pasti berkali-kali melintas di benak ibu. Sebenernya keadaan ini sangat wajar dialami seorang ibu. Mungkin jika orang lain bisa menjawab dengan lantang “Sudah harus disapih” atau “Jangan disapih dulu kasian”. Tapi bagi hati seorang ibu seringkali tidak demikian. Walau terkadang terlihat tegar tetap dihati seorang ibu ada kegundahan.

Itulah bentuk keterikatan emosional yang telah diciptakan Sang Pencipta, yang membuat seorang ibu begitu lekat dengan emosional anak-anaknya. Terkadang rasa gundah ini bisa menjadi serangan emosi baik bagi ibu itu sendiri, pasangannya, bahkan sang buah hati. Karena kegundahan itu bisa menimbulkan sikap setengah hati, tarik ulur untuk disapih atau tidak, sehingga membuat anak juga bingung pada proses penyapihan dan berakhir dengan kegagalan dalam menyapih.

Jadi bagaimana mengusir kegundahan itu? Perlu adanya pengetahuan lebih mendalam. Pengetahuan ini berdasarkan dari teori psikologi yang pernah saya pelajari dan pengalaman dari hidup saya sebagai seorang ibu yang sudah pernah menyapih anak pertama dan sekarang sedang menyapih anak kedua saya. Semoga dapat bermanfaat dan diambil cara-cara yang efektif bagi teman-teman.

Menyapih tanpa paksaan ada tiga hal, yaitu:
1. Ibu telah siap.

Seorang ibu yang telah siap adalah Ibu bisa secara konsisten dan siap mental untuk menghentikan aktivitas menyusui kepada anaknya. Tentukan tujuan utama anda, Mengapa anda harus menyapih? Beberapa jawaban yang sering kali muncul adalah;

  • ASI sudah berkurang, bahkan tidak keluar.
  • Ibu harus bekerja, tidak bisa menyusui. Ini adalah hal yang perlu dipertimbangkan, karena ASI sebenarnya masih bisa diperah disaat ibu bekerja dan disimpan di freezer dalam jangka waktu tertentu. Sehingga masih bisa diberikan pada anak dalam bentuk botol atau suapan (Nanti saya share info ini dilain artikel ya).
  • Ibu dalam kondisi hamil. Bila secara medis dikatakan ibu hamil boleh sambil menyusui sampai pada usia bulan kandungan tertentu, maka syaratnya adalah dengan kondisi asupan bisa terpenuhi bagi ibu, anak dan calon buah hati didalam kandungan. Tapi bila sang ibu merasa tidak mampu, sebaiknya tidak dilakukan. Perlu dipertimbangkan kembali disaat usia kandungan semakin membesar, harus lebih siap menyapih karena akan dihadapkan pada kesiapan proses kelahiran.
  • Anak susah makan, karena lebih memilih ngempeng sedangkan asi sudah tidak dapat memenuhi kebutuhan diusianya.
  • Tuntutan lingkungan, karena Anak dirasa sudah besar. Hal ini lebih berhubungan pada kesiapan anak untuk disapih. Akan saya bahas lebih mendetail di point’ kedua nanti.

Kesiapan ibu untuk menyapih sangat penting, karena ia harus konsisten berhenti melakukan aktivitas menyusui bahkan menghilangkan aktivitas yang bersinggungan dengan menyusui. Seperti menyebutkan kata “nenen” atau bahasa lainnya yang biasa digunakan untuk interaksi anak jika mau menyusui. Selain itu juga selama proses menyapih sebaiknya ibu tidak memperlihatkan payudara di depan anak, bahkan disaat berganti pakaian. Jangan sampai anak sudah mulai bisa menerima, sang ibu berganti pakaian di depan anak, sehingga dapat menstimulasi anak untuk kembali meminta.

Tujuan utama anda untuk menyapih perlu anda ingat. Karena inilah adalah bentuk Konsistensi secara verbal dan perilaku.

2. Anak sudah perlu disapih.

Bila ingin melalui menyapih tanpa paksaan, maka perlu menjawab pertanyaan ini: Apa yang membuat anak perlu di sapih? Ibu perlu memperhatikan karakteristik anak pada umumnya dan karakteristik yang ada pada anak.

Karakter pada umumnya adalah, dengan melihat anak seusianya. Terkadang panutan kita ada pada hal yang diajarkan orang tua, dan memang prinsip beliau sangat perlu diperhatikan karena sudah mengalami asam garam dalam kehidupan. Selain itu ada pula yang melihat dari kondisi lingkungan, seandainya dilingkungan mayoritas menyapih anak sedari dini, atau sebaliknya kita ada dilingkungan yang membiarkan anak tetap menyusui walau ASi tidak lagi keluar atau istilah bekennya adalah ngempeng.

Secara psikologi manusia memiliki tahap perkembangan. Dalam setiap tahap perkembangan memiliki ciri yang spesifik. Manusia mengalami masa Oral diusia 0-2 tahun. Masa Oral adalah masa dimana seorang anak merasakan kenyamanan pada area mulut. Sehingga anak diusia ini sangat wajar bila masih menyusui. Jika anak disapih dibawah usia 2 tahun, maka kita perlu lebih ekstra sabar menghadapi anak yang kemungkinan rewel. Bayangkan saja, ia harus kehilangan harta terindah, sesuatu yang ia kenal pertama kali sejak ia dilahirkan. Jadi secara psikologi anak yang masih usia 2 tahun masih wajar bila menyusui. Dan proses menyapih sebaiknya mulai dipersiapkan menginjak usia ini.

Salah satu pakar peneliti Psikologi terdahulu, Sigmund Freud, menyebutkan “Pada tahap oral, sumber utama bayi interaksi terjadi melalui mulut, sehingga perakaran dan refleks mengisap adalah sangat penting. Mulut sangat penting untuk makan, dan bayi berasal kesenangan dari rangsangan oral melalui kegiatan memuaskan seperti mencicipi dan mengisap. Karena bayi sepenuhnya tergantung pada pengasuh (yang bertanggung jawab untuk memberi makan anak), bayi juga mengembangkan rasa kepercayaan dan kenyamanan melalui stimulasi oral. Konflik utama pada tahap ini adalah proses penyapihan, anak harus menjadi kurang bergantung pada para pengasuh. Jika fiksasi terjadi pada tahap ini, Freud percaya individu akan memiliki masalah dengan ketergantungan atau agresi. fiksasi oral dapat mengakibatkan masalah dengan minum, merokok makan, atau menggigit kuku.” dikutip dari dari belajar psikologi.com

Karakteristik pada anak adalah kemampuan anak. Kemampuan anak yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:

  • Dimana anak mampu menangkap komunikasi ibu walaupun belum ada kemampuan dalam menggunakan bahasa. Misalkan anak paham  dengan bahasa ibu. Bahasa ibu tidak harus dengan kata-kata, bisa berupa gerakan atau biasanya sepatah-dua kata. Dengan anak sudah memahami, maka disaat menyapih, anak sudah bisa diajak untuk bernegosiasi disaat ada pengganti ASI. Bicarakan dengan bahasa anak, bahwa nenen bunda sedang sakit, atau luka bila perlu berikan tambahan warna yang aman pada payudara (seperti lipstik). Dan ingat pembicaraan ini dilakukan disaat anak sudah kenyang dan dalam kondisi anak senang atau minimal sedang menaruh perhatian pada anda.
  • Anak sudah memiliki makanan atau minuman utama. Terutama adalah minuman, karena sebagai pengganti zat cair bernutrisi yang dibutuhkan oleh anak. Misalkan anak sudah bisa meminum susu tambahan, maka aktivitas menyusui diganti dengan ini. Bila anak masih menolak bisa dihadirkan makanan yang disukainya misal buah, nasi atau camilan.  Kegiatan ini konsisten dilakukan, sehingga anak memahami disaat ia kehilangan aktivitas menyusui ia memiliki kenikmatan lain dari makanan/minuman kesukaannya. Dengan sendirinya lebih  aktivitas menyusui bisa berkurang. Sedangkan nutrisi anak masih dapat terpenuhi. 
  • Anak ngempeng. Boleh anak ngempeng diusia Oralnya, namun bila ternyata ASI sudah tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya maka yang harus dilakukan adalah mengurangi aktivitas menyusui. Dengan mengurangi aktivitas menyusui, diharapkan anak mampu untuk memakan dan meminum susu tambahan. Dan jika ia telah melalui masa Oral atau sudah diatas 3 tahun tapi masih ngempeng maka anak akan cenderung mengalami kesulitan untuk menaiki tahap perkembangan  selanjutnya. Karena disetiap usia, manusia memiliki tugas perkembangan yang berbeda dan bertingkat sepanjang hidupnya.
  • Anak seringkali bangun dan rewel dimalam hari. Anak perlu diperiksa temperatur badan normal, kondisi secara fisik tidak ada yang berubah, atau memperhatikan perut anak apakah sudah BAB (normalnya maksimal 3 hari). Memperhatikan nafas anak, apakah terlihat gejala flu atau batuk. Bila menunjukkan tidak ada tanda-tanda sakit dan kegiatan menyusui tidak bertahan lama, misalkan dia mau menyusui tapi kemudian menangis lagi. Berarti anda perlu memperhatikan kondisi ASI anda. Ada kemungkinan, anak rewel karena ASI sedikit atau tidak keluar. Anak yang rewel disaat itu adalah bentuk ia merasa tidak terpenuhi asupannya. Maka ibu perlu lebih ekstra makannya untuk produksi asi yang lebih banyak. Dan sebelum anak tidur ia perlu dikenyangkan dengan makanan yang lebih padat. Bila masih terjadi demikian, dan Asi tidak mencukupi dimalam hari maka proses penyapihan perlu menjadi pilihan.

3. Partner

Partner adalah orang ketiga diluar ibu dan anak yang akan disapih. Biasanya adalah seorang Ayah, namun bisa lainnya asalkan memiliki kedekatan  dengan sang ibu dan anak. Partner sangatlah penting disaat persiapan menyapih dan di saat proses menyapih.

Disaat persiapan menyapih, Partner dibutuhkan sebagai motivator sang ibu mempersiapkan mental untuk menyapih sang buah hati. Partner memiliki respon yang berbeda-beda dalam melihat fenomena menyapih . Sehingga perlu kita sadari sebagai seorang ibu, persiapan ini memang sangat dibutuhkan dari dalam diri sendiri. Sedangkan bila teman-teman pembaca adalah pada posisi partner, sungguh beruntung bisa mempelajari ini sampai selesai, sangat membantu sekali bagi kesiapan ibu dalam menyapih. Jadi bila anda seorang ibu, coba deh partner anda diajak melirik bacaan ini😉

Disaat proses menyapih, Partner berperan Penting. Ia sangat diperlukan disaat sang ibu sudah berusaha memberikan pengganti Asi yang disebutkan diatas, lalu ditolak dan anak masih rewel memaksa untuk menyusu. Pada kondisi ini sebaiknya ibu menghindar, memberi jarak pada anak (pergi dari area penglihatan anak). Lalu partner harus berusaha mengalihkan perhatiannya dengan kegiatan atau benda lain, misalkan dibawa keluar ruangan, atau diruangan menunjuk mencari cicak di dinding, dan lainnya sehingga anak bisa lebih tenang.

Disaat anak sudah tenang, partner bisa berinteraksi dan sambil menguatkan bahwa nenen ibu sakit atau dengan alasan lainnya. Kemudian memberikan minuman pengganti tersebut. Jangan menyerah. Apabila memang anak belum mau, tidak apa-apa jangan terburu berharap anak bisa tenang secepat orang dewasa.

Karena anak kecil memang masih belum punya kontrol terhadap emosinya. Dengan kita menyadari bahwa anak masih tidak memiliki kontrol emosi, maka setidaknya kita bisa lebih sabar dan lebih bisa kreatif untuk menaklukkan situasi seperti ini. Jika anak sudah tenang, maka minuman susu pengganti kembali diberikan, bila tidak mau berikan makanan lainnya. Sampai dia tenang, ibu hadir kembali disisi anak, membantu partner dan terus memberikan sounding pada anak bahwa nenen ibu sakit.

Teruslah berulang melakukan tindakan diatas secara konsisten. Karena pasti Anak membutuhkan figur pengganti. Yang sebelumnya kenyamanannya berada di mulut adalah menyusui, maka digantikan dengan makanan/minuman lain, serta diiringi dengan kasih sayang dan komunikasi.

Sudah siap untuk memutuskan menyapih?




Salam,
Dewi Adikara.

#Disadur dari Kisah Nyata:

Tulisan ini bertujuan untuk menguatkan saya dan para ibu muda lainnya untuk konsisten pada keputusannya disaat menyapih.

Dan tulisan ini dibuat disaat saya sedang menyapih, sudah dilakukan dalam sehari disiang hari berhasil tanpa tangisan, namun berbeda pada kondisi anak yang bangun setengah sadar di malam hari. Mereka pasti mencari figur ibu untuk nenen lebih ekstra. Tentu,  anak saya menangis mencari saya. Namun Suami saya yang menjadi partner menenangkan anak saya. Saya berdiam di sudut ruang diluar kamar sambil menitikkan air mata karena berusaha menahan diri mendengar tangisannya, namun itu yang harus saya lakukan. Sambil menulis artikel ini dan mengingat dr Spesialis anak yang pernah  mengatakan pada saya, ada dua hal dan itu benar terjadi bila dilakukan :

  1. Jangan takut anak muntah karena kekenyangan, jadi teruslah anak diberi makanan, camilan dan susu dimasa kecilnya, karena memang ia membutuhkan banyak asupan dimasa pertumbuhannya.
  2. Bila anak tidak mau minum susu biarkan saja dulu, nanti dia pasti akan mencari karena haus.

Hal itu saya lakukan dan benar sekali, akhirnya anak saya berhenti menangis dan tertidur disamping Ayahnya. Esok hari, adalah hari ini, saya kembali berinteraksi dengan anak  saya, menyambut pagi hari dengan tawaran susu formula, dan sang buah hati menerima. Sepanjang hari segala makanan, air putih dan susu mengisi perutnya. Sesekali ia bertanya dengan sepatah dua patah “Bunda? Atit? Napa? Nenen?” Saya jawab dengan sounding kembali “iya sayang, enak susu ini ya (sambil menunjuk susu formula), nenen Bunda sakit.

Hingga disiang hari saya tanpa partner, hanya ditemani anak  pertama saya usia 3 tahun. Si adek mulai mengantuk dan mengingat nenen, saya kembali konsisten bahwa saya sakit. Dia kembali menangis, saya siap sedia susu formula sambil  mengalihkan, ia tetap menangis dan pada akhirnya dia menyerah. Ia tertidur. Satu hasil yang saya peroleh dia menangis tanpa mengucapkan kata nenen, hanya menampakkan wajah penuh harap (hari-hari sebelumnya ia berkata nenen setiap ingin). Ia hanya menangis dan bingung mau berbuat apa. Dekapan, gendongan tidak menghentikan nangisnya. Dan saya memutuskan pura-pura tidur, tangisannya berhenti, iapun menguap dan tertidur. Dipertengahan tidurnya ia menangis, segera kuangkat dan kugendong, sebagai penggantin proses menyusui, ia pun tertidur kembali.

Alhamdulillah.. Subhanallah.. Begitu bangganya ibu padamu, sudah mengenal satu tahap lagi dalam emosi, bahwa tidak semua yang diminta bisa didapatkan. Dan tidak semua yang baik akan menjadi baik, bila telah melewati masanya.

Kuncinya adalah konsisten, sabar menghadapi anak yang rewel dan mencari hal-hal yang bervariasi untuk makanan dan susu anak. Dan mengenyangkan anak sebelum mau ditidurkan.

Terimakasih telah setia membaca sampai tuntas, Mohon Maaf bila masih banyak kekurangan, semoga proses penyapihan dengan buah hati anda bisa berjalan dengan menyenangkan😊

5 thoughts on “Cara menyapih anak tanpa paksaan

    1. Amin.. Semoga lancar nanti disaat proses menyapih ya, pintu sharing sm aku terbuka lebar mba.. monggo WA😉 Terimakasih mba Ike, jd ibu itu keren ya, harus bisa setrong seperti bisa bersembunyi dari kegundahan😘

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s